Lewati ke konten utama
Logo RSP Indonesia Seksi Religi, Spiritualitas dan Psikiatri PDSKJI
← Kembali ke artikel

edukasi

Mengajarkan Spiritualitas kepada PPDS Psikiatri: Seberapa Ikhlas Kita Mau (Mengajarkannya)?

Pasien jarang berkata, “Dok, saya mengalami gangguan penyesuaian.” Mereka berkata, “Dok, saya merasa Tuhan sedang menghukum saya.” Atau, “Kata orang, saya kurang ikhlas, makanya tidak sembuh-sembuh.” Kalimat semacam ini mengalir setiap hari di ruang praktik kita. Pertanyaannya sederhana dan tajam: siapa yangUlasan atas Hathaway dkk., “Teaching Spiritual and Religious Competencies to Psychiatry Residents: A Scoping and Systematic Review” (Academic Medicine) oleh : dr. Era Catur Prasetya, Sp.KJ(K)

Admin

Bagikan artikel

WhatsApp
learn do teach

Hathaway dan kolega mencoba menjawab pertanyaan itu lewat Academic Medicine. Mereka menyisir literatur, lalu menimbang apa yang diajarkan kepada PPDS psikiatri tentang spiritualitas dan agama, bagaimana cara mengajarkannya, dan seberapa jauh hasilnya terbukti. Menurut mereka, inilah scoping review sekaligus systematic review pertama untuk topik tersebut. Saya membacanya dengan antusias, dan dengan alis terangkat.

Ribuan Tulisan, Segelintir Bukti

Para penulis menelusuri delapan basis data hingga 30 Oktober 2019 dan menjaring 4.353 referensi unik. Hanya dua belas studi yang lolos untuk scoping review. Hanya tujuh yang masuk systematic review, dengan sekitar 218 PPDS dan sedikitnya 84 pasien. Hampir semuanya, 96 persen PPDS, berasal dari Amerika Serikat dan Kanada. Ribuan orang menulis tentang spiritualitas dan psikiatri, tetapi hanya segelintir yang berani mengukur hasil pelatihannya.

Isi Kurikulum: Kuat di Pusat, Bolong di Tepi

Semua program meletakkan fondasi yang sama: gambaran umum hubungan kesehatan jiwa dengan spiritualitas, ditambah keterampilan mewawancarai dan menilai pasien. Kerangka itu mengikuti dua modul inti Model Curriculum 1996. Sebelas program mengajarkan kolaborasi dengan pemuka agama, dan tujuh membahas psikiatri konsultasi-liaison.

Bagian tepinya bolong. Hanya lima program menyentuh etika. Hanya tiga membahas gangguan penggunaan zat, padahal spiritualitas berdetak di jantung Alcoholics Anonymous. Topik perempuan dan korban kekerasan? Nol. Para penulis menyebut kekosongan topik zat itu sangat disayangkan.

Cara Mengajar: Ceramah di Tepi Kolam

Para penulis menemukan 31 metode pengajaran. Semua program memakai kuliah. Sepuluh memakai diskusi kelompok. Hanya dua yang memakai role play atau praktik klinis terbimbing. Tak satu pun memakai simulasi, pasien standar, atau rekaman video. Kita mengajari PPDS berenang dari tepi kolam, lalu berharap mereka sanggup menolong pasien yang tenggelam dalam pertanyaan tentang makna.

Apa Kata Bukti

Hampir semua studi mengandalkan kuesioner swa-laporan, dan hasilnya manis: PPDS merasa lebih kompeten setelah dilatih. Satu workshop empat jam di Amerika Serikat menaikkan kesediaan PPDS melakukan asesmen spiritual dari 3,61 menjadi 3,99, dan kesediaan bekerja sama dengan pemuka agama dari 2,98 menjadi 3,51. Namun hanya 19 PPDS yang mengisi survei sebelum dan sesudahnya. Para penulis sendiri menilai kualitas sebagian besar studi rendah sampai sedang, dengan kelemahan paling sering pada kelompok pembanding, ukuran hasil, dan pelaporan data.

Studi lain berirama sama. Di Texas Tech, 92,3 persen responden merasa keahlian klinis mereka dalam urusan spiritualitas meningkat. Di University of South Carolina, lebih dari 80 persen dari 80 responden menilai pelatihan itu positif, dan tak satu pun menilainya negatif. Dua kursus enam jam, di Kanada dan Amerika Serikat, melaporkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang signifikan (P < 0,001). Semua angka itu menghibur, tetapi semuanya lahir dari penilaian diri sendiri.

Temuan paling menggigit datang dari satu-satunya uji acak terkendali, di Jenewa. Peneliti membagi 84 pasien gangguan jiwa berat ke dua kelompok sama besar. PPDS yang sudah dilatih menilai spiritualitas kelompok intervensi. Dalam tiga bulan, hanya tiga pasien (8%) di kelompok itu yang melewatkan jadwal kontrol, dibanding sepuluh pasien (26%) di kelompok kontrol (P = 0,02). Tetapi luaran primernya tidak bergeser. Aliansi terapeutik sama. Kepatuhan obat, gejala, fungsi, dan kualitas hidup pun sama. Asesmen spiritual belum terbukti menyembuhkan. Ia baru memberi satu sinyal: pasien yang spiritualitasnya ditanyakan lebih sering datang kontrol. Lima pasien melaporkan keyakinan religiusnya bertentangan dengan harapan terhadap pengobatan, namun penulis studi itu menyebut asesmen tersebut dapat ditoleransi dengan baik oleh semua pasien.

Catatan Kritis

Pertama, data ini berbau Barat. Mengajarkan spiritualitas di Boston tidak sama dengan mengajarkannya di Lamongan, tempat agama sudah menyatu dengan cara keluarga memahami sakit. Para penulis sendiri mengakui keterbatasan ini.

Kedua, rasa percaya diri bukan kompetensi. Dalam studi Musick pada 192 mahasiswa kedokteran, kelompok dengan kasus bertema spiritualitas melaporkan pengetahuan lebih tinggi. Saat diminta menulis riwayat spiritual dalam ujian, kedua kelompok sama baiknya.

Ketiga, uang ikut bicara. Dari sembilan studi yang melaporkan sumber dana, enam menerima dana Templeton Foundation. Penulis menduga dana sekecil apa pun mampu menggerakkan lahirnya kurikulum, dan mereka menegaskan dugaan itu masih perlu diuji.

Keempat, tidak semua PPDS bertepuk tangan. Di Texas Tech, hampir sepertiga PPDS menyebut pelatihan itu tidak bermakna. Di University of British Columbia, pengajar melihat sebagian PPDS agak memusuhi mata kuliahnya. Di Jenewa, antusiasme PPDS pada asesmen spiritual memudar seiring waktu. Resistensi juga data, dan data yang jujur.

Pelajaran bagi Kita

Tiga hal terlintas di kepala saya, dan ini pandangan pribadi. Pertama, keluarlah dari ruang kuliah. Tambahkan role play, supervisi kasus, dan kunjungan ke komunitas keagamaan. Kedua, nilai kompetensi dengan ukuran yang objektif: observasi wawancara, OSCE, dan evaluasi 360 derajat, bukan hanya kuesioner kepuasan. Para penulis menganjurkan hal serupa. Ketiga, bumikan kurikulumnya. Latih PPDS bekerja bersama ustaz, pendeta, pastor, dan pemuka agama lain. Latih mereka membedakan pengalaman religius dari gejala psikotik. Ajarkan batas profesional.

Para penulis menyatakan kurikulum 1996 sudah waktunya direvisi, dan penekanannya perlu bergeser ke kelompok populasi yang akan dijumpai klinisi di wilayah praktiknya. Bagi kita, itu berarti kurikulum yang berbau Nusantara.

Penutup

Viktor Frankl mengingatkan bahwa manusia adalah makhluk pencari makna. Pasien yang duduk di hadapan kita, apa pun diagnosisnya, sedang mencari makna itu. Psikiater tidak harus menjadi ulama. Namun ia harus punya bekal untuk tidak berpaling ketika pertanyaan itu muncul.

Bukti dari jurnal ini belum kokoh, tetapi arahnya terang. Pelatihan kompetensi spiritual dan religius layak diteruskan, diperbaiki, dan diuji lebih keras. Para penulis menutup dengan pesan yang lugas: studi berikutnya harus memadukan survei sikap dengan ukuran objektif pengetahuan, keterampilan, dan luaran pasien. Pekerjaan rumah itu kini ada di meja kita.

Rujukan

Hathaway DB, de Oliveira e Oliveira FHA, Mirhom M, Moreira-Almeida A, Fung WLA, Peteet JR. Teaching Spiritual and Religious Competencies to Psychiatry Residents: A Scoping and Systematic Review. Academic Medicine (naskah accepted, terbit daring sebelum cetak). DOI: 10.1097/ACM.0000000000004167.